Apa dulu saya tidak datang saat Tuhan sibuk membagikan iman.. apa dulu saia cuma bisa titip absen ketika Tuhan menjadwalkan kuis soal ketakwaan.. atau saya yang terlalu enggan naik kelas agar tidak perlu belajar keras.. atau saya yang sengaja mengulur waktu ujian kelulusan-Nya.. ah dasar pemalas!
Masih terekam jelas perbincangan saya dengan seorang sahabat. Kadang Tuhan tidak selalu mengabulkan doa umat-Nya dengan segera. Bisa besok, lusa, atau miliaran tahun lagi kalau memang benar kita bereinkarnasi. Nah, sekarang bisa-bisanya kita memaknai doa itu.
Yang dangkal mungkin berpikir kalau Tuhan tidak adil, lalu punya sentimen sendiri dengannya, atau bisa jadi doanya kurang sesajen. Ah, apa tidak lelah berprasangka?!
Maka mari berpikir lebih dalam (atau paling tidak lebih jenaka), mungkin saja Tuhan tidak segera mengamininya karena Beliau suka mendengar lantunan penuh harap dari bibir si pemohon doa. Kalau dikabulkan, Tuhan takut si pemohon tidak melantunkan doa merdu untuk-Nya lagi. Tuhan menunda keinginan karena ingin lebih lama dekat denganmu. Dengan kata lain, Tuhan takut kehilangan kamu. Dan takut kehilangan sama artinya dengan menyayangi. Jadi, Tuhan sayang sama kamu!
(tapi, ketakutan macam apa ya yang dimiliki se-Maha Tuhan, eheu..)
Kadang, semakin kamu menginginkan banyak hal, maka pada detik itu kamu justru telah kehilangan banyak sesuatu. Karena di dalam ambisi meraih ingin, selalu ada naluri penjudi yang candu akan harga materi ketimbang harga diri atau harga-harga tak ternilai lain.. Jadi memintalah pada-Nya sesuatu yang tak bernilai, agar kamu tidak disamakan dengan penjudi. (yah yah.. silogisme yang ganjil)
Tuhan, kau selalu berkata, “Pandang Aku, dan kau tak akan merasa sendiri lagi…”
Kini aku merajuk-Mu untuk menemani setiap detik hidupku
Sebegitu terhormatnya Engkau,
Hingga aku harus selalu menekan tombol capslock ketika menuliskan nama-Mu
Andai sebentar saja Kau sudi menyisihkan waktu-Mu hanya untuk seorang aku,
maka kemarin.. hari ini.. esok.. lusa.. dan hari-hari setelahnya..
aku hanya akan memohon, berikanlah aku warna kehidupan yang sempurna,
seperti pelangi…
Bukan gradasi yang redup tanpa jingga, atau terlalu cerah lalu berubah pucat ditinggal si-biru…
Berikan jutaan warna luruh agar aku bisa membagikannya pada setiap detak nadi bernyawa..
sampai di ujung usia, sampai partikel warnanya menyublim ke udara
bersama ragaku yang merajuk untuk bersandar pada-Mu kelak.
Maka kemudian, hidupku akan berarti karenanya…
Dan demi Tuhan, jangan bilang itu terlalu tinggi..
