Selasa, 18 Maret 2014

12 Years a Slave, karena setiap orang berhak hidup tanpa perlu permisi...


“I don’t wanna survive, I wanna live!”
Kalimat itu yang paling kuingat sepanjang 130 menit pita film diputar.
Setiap orang memang berhak tidak hanya untuk bertahan hidup, tetapi juga untuk benar-benar merasa ‘hidup’ sesuai yang diingini...tanpa perlu permisi…

Solomon Northup, yang diperankan apik oleh ChiwetelEjiofor, terlahir sebagai seorang niger yang bebas merdeka pada abad 18. Pria kelahiran Saratoga (capital-nya Sandiaga Uno kah?,krik..) itu punya hidup sempurna dengan seorang istri dan dua anaknya.

Hingga suatu hari, pemain violin profesional itu terjebak dengan bujuk rayu dua pria kulit putih yang menjanjikan pekerjaan dengan penghasilan aduhai. Makan malam mewah dengan anggur merah (bukan sponsor Meggi Z, sumpah) pun menjadi umpan. Tenggak berjejal di kerongkongan, Solomon tumbang, dua pria menyeringai…

Seperti adegan-adegan sehabis mabuk pada umumnya, ia terbangun lunglai, terkejut mendapati tangan dan kaki yang dirantai. Solomon diculik, kebebasannya direnggut, diboyong hingga ke selatan Amerika bernama Louisiana.

Karena si saya anaknya lemah, adegan cambuk menyambukjadi tontonan wajib tutup mata. Ya ya Solomon dicambuk hingga punggungnya dadas (kayaknya sih, kan merem) hanya untuk mempertahankan jati diri sebagai seorang‘Solomon’, bukan ‘Platt’.

Sambil masih merem, pikiran jadi mengawang soal ironi,ah.. berapa banyak dari kita yang rela dicambuk, ditusuk, ditikam, dan dibongkar-pasang justru untuk mengubah jati diri atas nama citra.

Tak ada lagi Solomon Northup, yang ada hanya Platt, sebuah ‘properti’ yang siap dijual kepada borjuis setempat untuk mengaliri kantong makelarnya dengan pundi-pundi melimpah. Adalah William Ford, pengusaha kayuyang bersedia membeli Platt dengan harga bombastis. Beruntung Platt menjadi budak kesayangan karena kecerdasannya memecahkan persoalan distribusi kayu viasungai.

Keberuntungan sirna saat sang mandor John Tibeats terusik dengan kecerdasan Platt. Tali tambang dan pohon rindang dipilih Tibeats untuk menghabisinyawa Platt, dan tentu saja gagal (kalo mati udahan pilemnyah).

Adegan yang paling bikin meringis sekaligus tawa simpu penonton seisi bioskop adalah saat si-Platt berdiri jinjit dengan keseimbangan terbatas menahan leher yang tergantung manis pada tambang selama berjam-jam. Matanya lalu bicara lebih banyak dari semua kata-kata, bahwa semua hanya untuk satu alasan: bertahan hidup, tak lebih…

Plot super panjang yang minim jeda itu mungkin jadi faktor Ejiofor masuk jajaran nomine best actor penggondol Oscar (yakali jinjit lamabikin menang Oscar).

Kehidupan Platt berubah drastis saat Ford terpaksa menjualnya kepada pemilik perkebunan kapas nan bengis (ganteng sih, tp nyebelin,lah..) Edwin Epps. Di sana Best Actress Lupita Nyong’o beraksi jadi Patsey,budak perempuan yang jadi bintang bagi Tuan Epps, dan tentu saja bulan-bulanan Nyonya Epps.

Adegan selanjutnya pasti bisa ditebak, saya kembali meringis (anaknya kebanyakan meringis emang) ketika Patsey diangkut kesemak-semak untuk memuaskan hasrat Epps. Tak ada perlawanan, juga rintihan, hanya ada air muka muram menahan pedih untuk tidak segera mati.

Bagi banyak perempuan, bersenggama dengan pria yangtidak disayangi tentu menakutkan, entah seberapa tampan dan terhormatnya si pemilik sperma. Rikuh membayangkan diri tenggelam tanpa sensasi rasa… mungkin perempuan lain tidak, tapi sepertinya saya sepakat.

Actor tampan yang juga bertitel produser, Brad Pitt hanya tampil sebagai pemanis di ujung cerita. Menjadi Bass, warga Canada anti-rasis yang akhirnya menyelamatkan Platt kembali menjadi Solomon, pria niger bebas,bukan budak.

Film garapan Steve McQueen yang diadaptasi dari kisahnyata itu sepertinya layak diganjar best picture-nya Academy Award. Mungkin kecuali klimaks penyelamatan Platt yang dideskripsi terlalu sederhana, tanpa apa..

Terlepas dari klimaks cerita, pada akhirnya setiap orang adalah budak bagi apapun yang mereka takuti… tapi yang paling menakutkan adalah menjadi budak bagi apapun yang terlalu diingini..

Maka semua orang layak berjuang untuk membuat kebebasan tak lagi menjadi komoditas yang paling mahal di dunia…

~~ 7 Maret 2014, Denpasar.. yang terbuat dari limbung karena lama tak menulis bebas, dan akhirnya mencoba, dan akhirnya berani posting ~~

Kamis, 07 Februari 2013

Bidadari Badung


Dia rindu masa kecil, ketika semua orang memaklumi kebodohan
seperti halnya berjalan dengan sandung karena ulah batu, bukan dia..
Seperti halnya mencaci dengan tangis karena ulah permainan, bukan dia..

Dia rindu masa kecil, ketika semua orang terlihat begitu kuat lindungi sibocah rapuh dibalik usia yang belum genap dua digit.. Bukan kuat tanggapi si kepala dua dengan intonasi memekik indera.

Dia rindu masa kecil, ketika rasa bisa dituai tanpa tendensi…

Tapi kadang, hidup punya masa kadarluasa, relasi pun sama…
Lagi-lagi sang hidup tak mau memberi tahu kemana dia esok kan membawaku…
Jadi melangkah saja, berlari jika ingin… atau lompati rasa menuju kata ‘nyaman’,
karena dengan begitu semua bisa termaklumi…

Tapi jangan kembali… karena cuma jejak yang akan ditemui, tak lebih...
Di jalanan lengang itu, tak banyak yang bisa teraih, kecuali letih…

ah baiklah.. cukup berfrasa.. jika lelah, lantunkan saja 'bidadari badung' milik oppie andaresta.. dari liriknya, kau akan paham.. indahnya kebebasan menjadi badung dengan tetap santun...


Gadis kecil berlari kesana – kemari
Tak peduli gaunnya tersingkap angin
Dia ingin terbang.. Dia ingin bebas
Melihat semua warna warni dunia
Gadis kecil ingin tahu segalanya
Mencari jawaban yang masih tanda tanya
Dia buka mata.. Dan buka telinga
Melihat semua o o kepincangan dunia
Kebebasan yang diingini
Adalah tidak menggunakan papan nomor didada
Berbuat ikuti kata hati.. Tanpa beban aturan
Gadis kecil mengalir ikuti arus
Susuri panas dan dinginnya dunia
Dia terus terbang.. Bagai Bidadari
Menaburkan bintang ciptakan keajaiban
Kebebasan yang diingini
Adalah tidak menggunakan papan nomor didada
Berbuat ikuti kata hati.. Tanpa beban aturan
Biarkanlah dia mengejar mimpinya
Biarkan kulitnya jadi hitam biru






Rabu, 05 September 2012

"..karena mama punyaku memang bukan yang terbaik, tapi ia perempuan dengan paket terlengkap yang kami miliki.."


Kalau ada yang bertanya, siapa koki terbaik di negeri ini?
Jawabku pasti, Mama…
Sudah puluhan bahkan ratusan kali saya mencoba kue terenak yang disulap mama di dapur kecil kami. cream soes, lapis Surabaya, bolu keju, brownies kukus, blackforrest, dan yang paling sering membuat lidah kaku tak berdenyut, fruit pie. Hhmm, yummy!! Anehnya, mama tak pernah mencoba kue buatannya itu lebih dari dua potong. Ia lebih sering bertanya… tentang tekstur, rasa, dan kelezatan kuenya. Dan saya lebih suka meledeknya dengan berbagai kritikan, “Ah kurang manis inih!” atau papa dengan ledekan yang lebih menohok, “Kok bantet gini sih kayak yang bikin!” tapi mama selalu punya tangkisan jitu atas semua kritikan itu, “Alah gak enak-gak enak bentar lagi juga abis!”. Semua tertawa, tak ada lagi balasan kata.. karena semua tahu.. kue memang selalu ludes, tak bersisa..

Kalau ada yang bertanya, siapa akuntan terbaik di negeri ini?
Jawabku pasti, Mama…
Setiap malam, mama selalu berkutat dengan buku file andalannya dan pulpen di tangannya, mencatat… entah apa yang ia catat berjam-jam lamanya hingga larut malam. Setelah kuintip, ternyata di dalam file tercantum jurnal pemasukan dan pengeluaran yang terjadi setiap hari. S.e.t.i.a.p.h.a.r.i.. tak ada yang luput satu hari pun. Menjelang hari raya ini, mama terlihat makin sibuk mencatat. Kali ini mencatat penjualan kue-kue lebaran miliknya, dengan jurnal yang makin rumit. Ia memang bukan sarjani lulusan akuntansi universitas ternama dengan yudisium cum laude, ia hanya ibu rumah tangga dengan predikat cukup memuaskan. Tapi darinya saya belajar, bahwa setiap hal memang membutuhkan perhitungan.

Kalau ada yang bertanya, siapa pelawak terlucu di negeri ini?
Jawabku pasti, Mama…
Mama punya persediaan mood yang terbilang agak aneh. Tapi kalau sudah tahu selanya, pasti seru.. hihi.. tipikal lawakan andalannya adalah bertanya detail, lalu nyuruh-nyuruh orang sms. Contohnya sebagai berikut:
Mama : itu si Andy Soraya kok bisa maen pukul-pukul jidat orang gitu sih?
Saya : ya bisalah mah, orang dia punya tangan! *lempeng*
Mama : ya tapi alesannya kenapaaa? *geregetan*
Saya : lah ya nggak tau, emang aku managernyah! *mulai kepancing sewot*
Mama : ya tanyain dong, smsin kek, telpon gituh.. coba ya coba tolong smsin dia skarang, tanya yang jelas kenapa alesannya! Kalau nanya tuh yang jelas, jangan setengah-setengah *mulai stress nyalahin orang*
Saya : iyee mahhh.. ntar aku tanyain, katanya skrg lg soting die'nyah.. *pasrah.. takut durhaka..*

Kalau ada yang bertanya, siapa mama terbaik di negeri ini?
Jawabku pasti, bukan Mama saya…
Karena mama punyaku memang bukan yang terbaik… tapi ia perempuan dengan paket terlengkap yang kami miliki…

apa kalian juga punya yang sepertiku???

#edisi sayang mamah... sepesial pake h

Rabu, 18 Juli 2012

Titip salam untuk [t]uhan…





Apa dulu saya tidak datang saat Tuhan sibuk membagikan iman.. apa dulu saia cuma bisa titip absen ketika Tuhan menjadwalkan kuis soal ketakwaan.. atau saya yang terlalu enggan naik kelas agar tidak perlu belajar keras.. atau saya yang sengaja mengulur waktu ujian kelulusan-Nya.. ah dasar pemalas!

Masih terekam jelas perbincangan saya dengan seorang sahabat. Kadang Tuhan tidak selalu mengabulkan doa umat-Nya dengan segera. Bisa besok, lusa, atau miliaran tahun lagi kalau memang benar kita bereinkarnasi. Nah, sekarang bisa-bisanya kita memaknai doa itu. 

Yang dangkal mungkin berpikir kalau Tuhan tidak adil, lalu punya sentimen sendiri dengannya, atau bisa jadi doanya kurang sesajen. Ah, apa tidak lelah berprasangka?! 

Maka mari berpikir lebih dalam (atau paling tidak lebih jenaka), mungkin saja Tuhan tidak segera mengamininya karena Beliau suka mendengar lantunan penuh harap dari bibir si pemohon doa. Kalau dikabulkan, Tuhan takut si pemohon tidak melantunkan doa merdu untuk-Nya lagi. Tuhan menunda keinginan karena ingin lebih lama dekat denganmu. Dengan kata lain, Tuhan takut kehilangan kamu. Dan takut kehilangan sama artinya dengan menyayangi. Jadi, Tuhan sayang sama kamu!
(tapi, ketakutan macam apa ya yang dimiliki se-Maha Tuhan, eheu..) 

Kadang, semakin kamu menginginkan banyak hal, maka pada detik itu kamu justru telah kehilangan banyak sesuatu. Karena di dalam ambisi meraih ingin, selalu ada naluri penjudi yang candu akan harga materi ketimbang harga diri atau harga-harga tak ternilai lain.. Jadi memintalah pada-Nya sesuatu yang tak bernilai, agar kamu tidak disamakan dengan penjudi. (yah yah.. silogisme yang ganjil)


Tuhan, kau selalu berkata, “Pandang Aku, dan kau tak akan merasa sendiri lagi…”
Kini aku merajuk-Mu untuk menemani setiap detik hidupku

Sebegitu terhormatnya Engkau, 
Hingga aku harus selalu menekan tombol capslock ketika menuliskan nama-Mu

Andai sebentar saja Kau sudi menyisihkan waktu-Mu hanya untuk seorang aku, 
maka kemarin.. hari ini.. esok.. lusa.. dan hari-hari setelahnya.. 
aku hanya akan memohon, berikanlah aku warna kehidupan yang sempurna,
seperti pelangi…
Bukan gradasi yang redup tanpa jingga, atau terlalu cerah lalu berubah pucat ditinggal si-biru… 

Berikan jutaan warna luruh agar aku bisa membagikannya pada setiap detak nadi bernyawa.. 
sampai di ujung usia, sampai partikel warnanya menyublim ke udara 
bersama ragaku yang merajuk untuk bersandar pada-Mu kelak. 
Maka kemudian, hidupku akan berarti karenanya… 

Dan demi Tuhan, jangan bilang itu terlalu tinggi..

Minggu, 17 Juni 2012

Bergegas pergi... atau sekadar bergerak dua inchi..





dan berjalan saja tak cukup untuk menggulingkan proses pendewasaan
katanya, hidup ini cair, realitas bergerak, semesta pun bermutasi
katanya hidup akan mengikis apa saja yang memilah diam, termasuk aku...
maka bergegaslah pergi atau sekedar bergerak dua inci.. 
walau ini tak banyak mengubah sang rotasi.. 
paling tidak aku tak kalah dengan detik yang berdetak di ruang waktu..

cermin lalu menyalak serta merta meluap ingin retak
tapi tunggu dulu...
mungkin belum terlalu usang untuk bermigrasi jadi sampah serapah
mungkin hanya hawa ruang yang terlalu pekat dan enggan berasimilasi
maka jelajahi saja cerminnya, dan kau akan tahu arti diri
kau akan jejaki varian rasa, pantulan kelakar atas resah
yang kau bibiti, entah nanti tertuai atau justru memuai,
yang ku tahu pasti, ini semua mereka yang memulai..

Kamis, 07 Juni 2012

Ayah sayang bgt sama mas!!...





seperti malam-malam sebelumnya, saya menunggu seonggok bis menuju arah selatan untuk bergegas pulang. lima menit.. sepuluh menit.. duapuluh menit.. ah kesabaran saya mulai diuji! dan selembar rupiah jingga pun kutukar botolan teh siap saji "smoga menenangkan," pikirku.

tiga anak tangga kutapaki, kemudian memilah kursi di deretan kelima. dengan kepala menengadah, pergelangan tangan menggapai air conditioner dan mengarahkannya tepat di atas ubun-ubun. tak butuh waktu lama, saya bersandar menatap luas ke luar jendela sembari menggumamkan 'feels like home' dalam hati, mengikuti rithem chantal kreviazuk yang terakomodasi melalui MPEG-1 audio layer 3 buatan paman sakura.. huff, akhirnya bisa rehat sejenak!

tiba-tiba terdengar suara mengudara lantang dari balik bangku biru, menjawab telepon dia rupanya. tipikal bariton itu saya prediksi milik pria sekira 30-40 tahun. "Halo?" kata itu diulangi 7x.. dan saya mulai merasa terganggu.. 11x, dan ini mulai sangat menyebalkan. ingin rasanya menjawab ptanyaan itu dengan, "Halo neraka, masihkah ada tempat untuknya singgah sejenak dan tidak menggangguku di sini!!" yahyahyah, andai saja bisa..

akhirnya si halo tak lagi terlontar, tapi kalimat lanjutan yang dimuntahkan dgn intonasi halusnya malah membuat saya smakin mual. "Kok blm tidur sih sayang?","tidur gih, udah malem nih!".. ajugile ni orang gatau aturan bgt sih, udh tua jg msh aja ababil *ABG labil*, kl mau lebay2an ga usah dibis kedap suara kya gini keq, annoying capslock tauuu.. dan klimaks kemurkaan tercapai dgn kalimat bodoh macam, "mas, udah makan blm?". heyloo.. i dont even care bout ur misdeed or somethin', but its 10 PM o'clock dude n i just wanna hibernate for a moment plissss!!! (hibernate tp sebentar, ahaha.. bloon!) 

agh damned, 3 menit lagi msh brisik.. akan saia kebiri dia hidup-hidup!!
alih-alih ingin mengebiri, 3 menit kemudian saya malah menumpahkan air mata tanpa isaknya.. hmm, dan bonus rasa malu berkepanjangan krn silly think i've done a while ago!heu..

fluktuasi rasa 3 menit itu saya dapatkan hanya karena satu kata penjelas, "AYAH sayang bgt deh sama mas!!" Almighty.. ternyata dari tadi saya mendengarkan celotehan sayang dari seorang ayah pada jagoan kecilnya yang sulit tidur 'pagi' sebelum sang ayah bertengger di samping ranjang untuk sekedar memberinya cium hangat pengantar tidur. ternyata dari tadi saya merasa terganggu oleh perhatian tulus seorang ayah yang melebihi ilmuan kpd si'scirus.

saya merinding dengar kata 'sayang' yang bergemericik dari kerongkongan sang ayah berkali-kali.. entah asing dengan kata itu karena jarang skali meluncur dari ayah saya, atau memang saya benar-benar terhipnotis dengan keleluasaannya mengungkapkan rasa. saya kagum!!

saya memang lebih sering terisak ketika menonton seorang ibu kehilangan anaknya, ketimbang juliet yang kehilangan sang romeo. perjalanan little miss shunsine, I Am Sam, atau pay it forward jauh lebih bernyawa daripada kisah dramatis roman-roman picisan. bahkan yang membosankan seperti Le Grant Voyage masih bisa membuat saya merinding di klimaks cerita.

percakapan imajiner kembali dilanjutkan, kali ini sang ayah merajuk si jagoan dgn 'roti mahalnya'.
"mas jangan nakal yah, nanti ayah pulang bawa roti kesukaan mas lho... iya.. itu lho yang biasa ayah bawa, roti yang ayah beli di hotel, iya, yang mahal dong! bsk mas bawa bekel roti ya k skola?"

eheheu, agak janggal juga sih dgr kata 'mahal',ahaha.. tp tak sdikit pun pkiran picik kluar dari rongga otak kecil saya, yang ada hanyalah simpulan senyum yang merekah (masih dengan air mata). kemudian menguapkan pandangan, membayangkan rekam jejak diri. lalu tersenyum, lagi...

saya lahir dari kluarga yang menganggap komunikasi non-verbal jauh lebih bermakna ketimbang ungkapan lugas penuh muslihat,(intinya miskin ekspresi, kaya apresiasi *maksa*). kalau saya sakit, si ibu jarang skali memanjakan saya dgn kalimat2 penuh perhatian seperti, kamu sakit apa, kok bisa begini memang knapa? mau makan apa? kamu tiduran aja biar cepet sembuh!.. tapi dia lebih senang menyentuh dahi saya, kemudian bergegas mencari obat yang sekiranya saia butuhkan. atau sekedar membuatkan minuman hangat, dan bubur 'blender' siap saji. heu..

dan benar saja, memang hanya itu yang saya butuhkan. akhirnya saya tumbuh menjadi perempuan yang lebih suka melakukan sesuatu daripada mengatakan sesuatu pada orang lain (hanya pada hal-hal tertentu, benar-benar tertentu, heu). karena kebanyakan orang menerjemahkan sesuai dengan apa yang mereka inginkan...


Sabtu, 26 Mei 2012

terima kasih, waktu

terima kasih untuk logika yang sudah berada pada tempatnya
terima kasih untuk hidup yang akhirnya kembali pada hakikatnya
terima kasih untuk pelajaran melangkah yang sulit terbayar lunas
terima kasih untuk kedewasaan yang sudah teraih hingga (hampir) utuh
terima kasih banyak, kepada sang waktu...