Dia rindu masa kecil, ketika semua orang memaklumi
kebodohan
seperti halnya berjalan dengan sandung karena ulah
batu, bukan dia..
Seperti halnya mencaci dengan tangis karena ulah
permainan, bukan dia..
Dia rindu masa kecil, ketika semua orang terlihat
begitu kuat lindungi sibocah rapuh dibalik usia yang belum genap dua digit..
Bukan kuat tanggapi si kepala dua dengan intonasi memekik indera.
Dia rindu masa kecil, ketika rasa bisa dituai tanpa
tendensi…
Tapi kadang, hidup punya masa kadarluasa, relasi pun
sama…
Lagi-lagi sang hidup tak mau memberi tahu kemana dia
esok kan membawaku…
Jadi melangkah saja, berlari jika ingin… atau lompati
rasa menuju kata ‘nyaman’,
karena dengan begitu semua bisa termaklumi…
Tapi jangan kembali… karena cuma jejak yang akan
ditemui, tak lebih...
Di jalanan lengang itu, tak banyak yang bisa teraih,
kecuali letih…
ah baiklah.. cukup berfrasa.. jika lelah, lantunkan
saja 'bidadari badung' milik oppie andaresta.. dari liriknya, kau akan paham..
indahnya kebebasan menjadi badung dengan tetap santun...
Gadis kecil berlari kesana – kemari
Tak peduli gaunnya tersingkap angin
Dia ingin terbang.. Dia ingin bebas
Melihat semua warna warni dunia
Gadis kecil ingin tahu segalanya
Mencari jawaban yang masih tanda tanya
Dia buka mata.. Dan buka telinga
Melihat semua o o kepincangan dunia
Kebebasan yang diingini
Adalah tidak menggunakan papan nomor didada
Berbuat ikuti kata hati.. Tanpa beban aturan
Gadis kecil mengalir ikuti arus
Susuri panas dan dinginnya dunia
Dia terus terbang.. Bagai Bidadari
Menaburkan bintang ciptakan keajaiban
Kebebasan yang diingini
Adalah tidak menggunakan papan nomor didada
Berbuat ikuti kata hati.. Tanpa beban aturan
Biarkanlah dia mengejar mimpinya
Biarkan kulitnya jadi hitam biru

Tidak ada komentar:
Posting Komentar