“I don’t wanna survive, I wanna live!”
Kalimat itu yang paling kuingat sepanjang 130 menit pita film diputar.
Setiap orang memang berhak tidak hanya untuk bertahan hidup, tetapi juga untuk benar-benar merasa ‘hidup’ sesuai yang diingini...tanpa perlu permisi…
Solomon Northup, yang diperankan apik oleh ChiwetelEjiofor, terlahir sebagai seorang niger yang bebas merdeka pada abad 18. Pria kelahiran Saratoga (capital-nya Sandiaga Uno kah?,krik..) itu punya hidup sempurna dengan seorang istri dan dua anaknya.
Hingga suatu hari, pemain violin profesional itu terjebak dengan bujuk rayu dua pria kulit putih yang menjanjikan pekerjaan dengan penghasilan aduhai. Makan malam mewah dengan anggur merah (bukan sponsor Meggi Z, sumpah) pun menjadi umpan. Tenggak berjejal di kerongkongan, Solomon tumbang, dua pria menyeringai…
Seperti adegan-adegan sehabis mabuk pada umumnya, ia terbangun lunglai, terkejut mendapati tangan dan kaki yang dirantai. Solomon diculik, kebebasannya direnggut, diboyong hingga ke selatan Amerika bernama Louisiana.
Karena si saya anaknya lemah, adegan cambuk menyambukjadi tontonan wajib tutup mata. Ya ya Solomon dicambuk hingga punggungnya dadas (kayaknya sih, kan merem) hanya untuk mempertahankan jati diri sebagai seorang‘Solomon’, bukan ‘Platt’.
Sambil masih merem, pikiran jadi mengawang soal ironi,ah.. berapa banyak dari kita yang rela dicambuk, ditusuk, ditikam, dan dibongkar-pasang justru untuk mengubah jati diri atas nama citra.
Tak ada lagi Solomon Northup, yang ada hanya Platt, sebuah ‘properti’ yang siap dijual kepada borjuis setempat untuk mengaliri kantong makelarnya dengan pundi-pundi melimpah. Adalah William Ford, pengusaha kayuyang bersedia membeli Platt dengan harga bombastis. Beruntung Platt menjadi budak kesayangan karena kecerdasannya memecahkan persoalan distribusi kayu viasungai.
Keberuntungan sirna saat sang mandor John Tibeats terusik dengan kecerdasan Platt. Tali tambang dan pohon rindang dipilih Tibeats untuk menghabisinyawa Platt, dan tentu saja gagal (kalo mati udahan pilemnyah).
Adegan yang paling bikin meringis sekaligus tawa simpu penonton seisi bioskop adalah saat si-Platt berdiri jinjit dengan keseimbangan terbatas menahan leher yang tergantung manis pada tambang selama berjam-jam. Matanya lalu bicara lebih banyak dari semua kata-kata, bahwa semua hanya untuk satu alasan: bertahan hidup, tak lebih…
Plot super panjang yang minim jeda itu mungkin jadi faktor Ejiofor masuk jajaran nomine best actor penggondol Oscar (yakali jinjit lamabikin menang Oscar).
Kehidupan Platt berubah drastis saat Ford terpaksa menjualnya kepada pemilik perkebunan kapas nan bengis (ganteng sih, tp nyebelin,lah..) Edwin Epps. Di sana Best Actress Lupita Nyong’o beraksi jadi Patsey,budak perempuan yang jadi bintang bagi Tuan Epps, dan tentu saja bulan-bulanan Nyonya Epps.
Adegan selanjutnya pasti bisa ditebak, saya kembali meringis (anaknya kebanyakan meringis emang) ketika Patsey diangkut kesemak-semak untuk memuaskan hasrat Epps. Tak ada perlawanan, juga rintihan, hanya ada air muka muram menahan pedih untuk tidak segera mati.
Bagi banyak perempuan, bersenggama dengan pria yangtidak disayangi tentu menakutkan, entah seberapa tampan dan terhormatnya si pemilik sperma. Rikuh membayangkan diri tenggelam tanpa sensasi rasa… mungkin perempuan lain tidak, tapi sepertinya saya sepakat.
Actor tampan yang juga bertitel produser, Brad Pitt hanya tampil sebagai pemanis di ujung cerita. Menjadi Bass, warga Canada anti-rasis yang akhirnya menyelamatkan Platt kembali menjadi Solomon, pria niger bebas,bukan budak.
Film garapan Steve McQueen yang diadaptasi dari kisahnyata itu sepertinya layak diganjar best picture-nya Academy Award. Mungkin kecuali klimaks penyelamatan Platt yang dideskripsi terlalu sederhana, tanpa apa..
Terlepas dari klimaks cerita, pada akhirnya setiap orang adalah budak bagi apapun yang mereka takuti… tapi yang paling menakutkan adalah menjadi budak bagi apapun yang terlalu diingini..
Maka semua orang layak berjuang untuk membuat kebebasan tak lagi menjadi komoditas yang paling mahal di dunia…
~~ 7 Maret 2014, Denpasar.. yang terbuat dari limbung karena lama tak menulis bebas, dan akhirnya mencoba, dan akhirnya berani posting ~~
