Rabu, 19 Oktober 2011

Saya, Rasa, dan Logika


Ini cuma tentang saya dan kepenatan yang mendarah daging
Percaya atau tidak,  
Jika rasa bisa dikonversi menjadi air
Mungkin ini hanya genangan bercampur lumpur dan bakteri

Ini cuma tentang saya dan logika yang baru saja bermusuhan
Saya yang digiring kebodohan hingga ke rusuk
Lalu tersungkur jatuh oleh rasa bernama kasmaran…

Tapi semua cuma soal memberi tanpa bertanya lebih lagi
Karena kemampuan menjawab sudah tergerus garis tebal penyalur asa

Katanya, matahari terlalu rapuh untuk berdiri tegak tanpa nyawa
Katanya, matahari kerap menghilang, labil.. dengan terbit dan tenggelam
Katanya, matahari cuma balon gas penyuara terang setelah hujan badai selesai

Jika menalar lebih lagi, matahari tak pernah berubah dengan takdirnya
Ini hanya persoalan bumi yang terus berotasi,
berputar menjadi siang penemu terang
lalu berbalik badan menjadi pemuja dewa bintang

Maka matahari tak perlu berupaya keras menjadi bintang,
Atau bongkah sinar cantik lain penggoda iman
Ia hanya butuh jati diri, agar bisa terus bertengger di atas awan, tanpa sakit hati
Tanpa kata sayang yang kemudian jatuh perlahan, dijungkal kebodohan dan bukan logika…


1 komentar: